Tommy juga mengutarakan bahwa kondisi industri sawit di Sumbar memperlihatkan kontras yang tajam antara ketimpangan di tingkat tapak dengan besarnya keuntungan grup konglomerasi global.
”Petani swadaya di tingkat bawah seperti di Pasaman Barat hanya mengelola lahan seluas dua hektare dan kerap berhadapan dengan konflik batas wilayah melawan korporasi raksasa,” ujar Tommy.
Selain konflik lahan, kata Tommy, Rantai penjualan hasil panen petani swadaya harus melewati rentetan tengkulak dan pemilik peron sebelum sampai ke pabrik pengolahan. Ia menyampaikan bahwa panjangnya alur distribusi tersebut menyebabkan potongan biaya di setiap tingkatan sehingga harga yang diterima petani hanya berkisar Rp2.100 hingga Rp2.500 per kilogram, jauh di bawah harga patokan perusahaan sebesar Rp3.100 hingga Rp3.200 per kilogram.
Di sektor hilir dan konglomerasi global, kata Tommy, Wilmar International Group menguasai pabrik pengolahan PT Wilmar Nabati Indonesia serta konsesi hulu seluas sekitar 20.000 hektare melalui PT Permata Hijau Pasaman I, PT Gersindo Masang Plantations, dan PT Agra Masang Plantations.
Tommy menuturkan bahwa Musim Mas Group turut mengoperasikan PT Wira Inno Mas di sektor hilir dengan penguasaan konsesi nasional mencapai 106.732 hektare.
”Grup raksasa lain seperti Incasi Raya atau Gunas Group menguasai lebih dari 80.000 hektare konsesi, di mana anak usahanya yakni PT BPSJ memiliki histori keterkaitan politik lokal serta terhubung dengan jaringan offshore Panama Papers,” tutur Tommy.
Tommy mengatakan bahwa sektor pengolahan hilir juga diisi oleh Royal Golden Eagle melalui PT Apical Group Indonesia, serta KPN Corp dan Bakrie Group yang menguasai puluhan ribu hektare lahan perkebunan melalui PT Karya Agung Megah Utama dan PT Citalaras Cipta Indonesia. Ia menyebut bahwa ketimpangan penguasaan lahan dan jaringan industri skala besar ini memicu nilai transaksi bernilai fantastis di pasar Internasional.
”Total ekspor minyak sawit dari Sumatera Barat pada tahun 2025 mencapai 2,27 juta ton dengan nilai ekonomi menembus US$2,31 miliar atau setara Rp36 triliun,” ujar Tommy.




















