Setelah itu, Rezi kembali menghadapi persoalan keluarga. Istrinya mengalami pengapuran yang cukup berat pada bagian kaki berdasarkan pemeriksaan di rumah sakit. Kondisi tersebut membuat sang istri hingga sekarang kesulitan beraktivitas.
Meski menghadapi persoalan usaha dan keluarga, Rezi tidak menyerah. Pada Agustus 2020 ia membuka usaha ayam potong karena melihat peluang untuk berkembang masih terbuka.
Keputusan itu perlahan membuahkan hasil. Usahanya kembali berkembang hingga ia mampu membeli rumah dan kendaraan. Pada 2025, ia juga berangkat umrah bersama istri dan orang tuanya.
Kini Rezi mengelola kios ayam potong di Pasar Alai, Kecamatan Padang Utara, dan usaha serupa di rumah. Ia mempekerjakan enam orang, terdiri dari empat pekerja di kios dan dua pekerja di rumah. Pelanggannya mencakup 18 usaha rumah makan dan dua dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, belakangan penjualannya kembali menurun. Sebelumnya, ia bisa menjual 250 kilogram ayam per hari, sedangkan sekarang penjualan berkisar 190 kilogram saat ramai. Pada hari yang sepi jumlahnya bahkan hanya mencapai 150 kilogram. Ia juga menghadapi harga ayam dari kandang yang tinggi.
“Untuk menjaga usaha tetap berjalan, saya menjaga hubungan dengan pelanggan tetap dan mencari peluang untuk mendapatkan pelanggan tetap lainnya,” katanya.
Di tengah kesibukan tersebut, Rezi tetap berusaha meluangkan waktu untuk mendampingi istrinya. Setiap hari ia mulai bekerja sejak subuh dengan mengantarkan ayam kepada pelanggan rumah makan, kemudian membantu memotong ayam di kios hingga sekitar pukul 08.00 WIB.
Setelah itu, Rezi pulang untuk mengurus istri dan membantu penjualan di rumah. Pada siang hari ia kembali ke kios untuk memantau usaha selama sekitar satu jam sebelum pulang lagi. Sementara itu, istri dan orang tuanya mendapat bantuan perawatan dari adik perempuan dan anaknya di rumah.






















