“Kondisi tersebut berkaitan dengan pengerjaan bronjong di dekat sekolah yang menggunakan alat berat. Alat berat yang melintasi lingkungan sekolah diduga membuat permukaan jalan menjadi lebih landai sehingga air mengalir ke arah sekolah,” ungkap Yopi.
Meski demikian, dugaan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan penyebab air masuk dan merendam lingkungan sekolah. Belum dapat dipastikan apakah perubahan permukaan jalan tersebut menjadi faktor utama terjadinya banjir.
Pembersihan yang dilakukan secara bergotong royong diharapkan dapat mempercepat pemulihan kondisi sekolah. Namun, kesiapan untuk kembali menggelar pembelajaran tatap muka tetap bergantung pada kondisi lingkungan setelah proses pembersihan selesai.
“Kepastian pelaksanaan pembelajaran tatap muka selanjutnya bergantung pada kondisi sekolah setelah proses pembersihan,” kata Yopi.




















