Kabarminang — Pemerintah Nagari Sariak Alahan Tigo, Kecamatan Hiliran Gumanti, Kabupaten Solok, meminta UIN Imam Bonjol Padang menambah jumlah mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang ditempatkan di nagari tersebut pada 2027.
Permintaan itu disampaikan menyusul tingginya antusiasme masyarakat terhadap berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan yang dilaksanakan mahasiswa selama KKN 2026.
Wali Nagari Sariak Alahan Tigo, Baharuddin, mengatakan bahwa kehadiran mahasiswa memberikan suasana baru bagi masyarakat, terutama dalam membangkitkan semangat belajar dan berkegiatan di kalangan anak-anak, remaja, dan pemuda.
Hal tersebut disampaikan Baharuddin dalam pertemuan dengan Tim Evaluasi KKN Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Imam Bonjol Padang di Kantor Wali Nagari Sariak Alahan Tigo pada Kamis (22/10/2026).
“Malahan permintaan kami, kalau bisa, jumlah mahasiswa ditambah. Sebab, pada tahun 2026 ini kegiatan hanya terfokus di satu jorong. Mahasiswa tidak bisa dibagi ke jorong lainnya karena jumlah mereka hanya 23 orang,” ujar Baharuddin, didampingi Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat, Rozi Rohani.
Baharuddin meneranngkan bahwa Nagari Sariak Alahan Tigo memiliki wilayah administrasi yang cukup luas dan terdiri atas delapan jorong, yakni Jorong Sariak Ateh, Sariak Bawah, Talaok, Siangai-angai, Sungai Pangalek, Lurah Gadang, Taratak Teleang, dan Pinti Kayu.
Keterbatasan jumlah mahasiswa, kata Baharuddin, membuat pemerintah nagari bersama mahasiswa memusatkan kegiatan KKN di Jorong Taratak Teleang. Langkah tersebut dilakukan agar program yang direncanakan dapat dilaksanakan secara terarah dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Karena keterbatasan itu, kita fokus di Jorong Taratak Teleang. Alhamdulillah, seluruh kegiatan berjalan lancar. Bahkan, waktunya justru terasa terlalu cepat,” ucap Baharuddin.
Baharuddin mengatakan bahwa mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang mendapat sambutan positif dari masyarakat karena tidak hanya menjalankan program keagamaan, tetapi juga terlibat dalam kegiatan pendidikan dan sosial kemasyarakatan.
Menurut Baharuddin, kehadiran mahasiswa turut membangkitkan semangat anak-anak dan remaja untuk mengikuti berbagai kegiatan bersama. Interaksi tersebut juga membuka ruang pembelajaran di luar sekolah sekaligus mempererat hubungan generasi muda dengan lingkungan sosial.
Antusiasme terhadap mahasiswa KKN, kata Baharuddin, juga datang dari kalangan ibu-ibu. Karena itu, pemerintah nagari berharap kerja sama dengan UIN Imam Bonjol Padang dapat berlanjut melalui kegiatan pengabdian dosen maupun penempatan mahasiswa KKN pada tahun berikutnya.
Permintaan penambahan mahasiswa tersebut juga berkaitan dengan kebutuhan pemerataan kegiatan pengabdian. Dengan delapan jorong yang dimiliki, jumlah mahasiswa yang lebih banyak dinilai memungkinkan program pengabdian menjangkau wilayah yang lebih luas.
Evaluasi pelaksanaan KKN
Pertemuan tersebut merupakan bagian dari evaluasi KKN 2026 yang dilakukan LP2M UIN Imam Bonjol Padang sekaligus untuk menghimpun masukan dari pemerintah nagari sebagai bahan persiapan program pengabdian 2027.
Tim evaluasi yang mengunjungi Nagari Sariak Alahan Tigo terdiri atas Abdullah Khusairi, Rahmat Satria Dinata, dan Rafiq Abdul Hakim.
Abdullah mengatakan bahwa evaluasi langsung ke nagari diperlukan untuk memperoleh gambaran mengenai penerimaan masyarakat, pelaksanaan program, serta persoalan yang dihadapi mahasiswa selama menjalankan pengabdian.
Menurut Abdullah, masukan dari pemerintah nagari menjadi bagian penting dalam menentukan arah pengembangan KKN, termasuk mempertimbangkan permintaan penambahan mahasiswa dan keberlanjutan kerja sama dengan nagari mitra.
“Mengingat banyaknya nagari yang menginginkan kehadiran mahasiswa KKN dan dosen untuk melaksanakan pengabdian, diperlukan proses seleksi. Tidak semua permintaan dapat terpenuhi karena keterbatasan jumlah mahasiswa yang dapat ditempatkan,” ujar Khusairi.
Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN UIN Imam Bonjol Padang kini dikembangkan melalui berbagai skema. Selain KKN reguler dengan penempatan mahasiswa di nagari, terdapat KKN Domisili, KKN Lingkar Kampus, KKN Internal Kampus, serta sejumlah program tematik lainnya.
Beragam skema tersebut memberikan pilihan bentuk pengabdian sesuai kebutuhan masyarakat, karakteristik wilayah, dan kompetensi mahasiswa. Karena itu, permintaan penempatan mahasiswa dari berbagai nagari perlu disesuaikan dengan ketersediaan peserta, pembagian kelompok, serta prioritas program yang ditetapkan universitas.
Sementara itu, Rahmat Satria Dinata mengatakan bahwa evaluasi KKN tidak hanya berorientasi pada jumlah kegiatan yang berhasil dilaksanakan mahasiswa.
“Evaluasi kita selalu fokus pada pencapaian program pengabdian, persoalan moral, serta hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi mahasiswa dengan masyarakat,” ujarnya.
Menurut Rahmat, kemampuan mahasiswa beradaptasi dengan kehidupan masyarakat menjadi salah satu aspek penting dalam pelaksanaan KKN. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu merancang dan menjalankan program, tetapi juga menjaga sikap, membangun komunikasi, serta menghormati nilai dan kebiasaan masyarakat setempat.
Dengan demikian, keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari terlaksananya program kerja, tetapi juga dari kualitas hubungan sosial yang terbangun antara mahasiswa dan masyarakat.
Pada 2026, lebih dari 2.500 mahasiswa mengikuti KKN periode ke-52 UIN Imam Bonjol Padang. Pelepasan mahasiswa dilaksanakan pada 15 Juni 2026 di Gedung J Kampus III UIN Imam Bonjol Padang dengan pembekalan oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar.
Program KKN tahun tersebut mengusung semangat “An-Nahl Berdampak: Berdaya, Tangguh, dan Berbudaya” yang menekankan pengabdian mahasiswa dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, penguatan kapasitas komunitas, dan pengembangan potensi lokal.





















