Kabarminang – Aktivitas truk pengangkut material tambang galian C di kawasan Gunung Sariak, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, dikeluhkan pengguna jalan dan masyarakat sekitar. Debu tebal yang beterbangan saat kendaraan melintas dinilai mengganggu kenyamanan, mengurangi jarak pandang, dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kesehatan pengendara.
Seorang pengguna jalan, Ari (26), mengatakan debu menjadi persoalan yang kerap ia rasakan ketika melintasi kawasan sekitar aktivitas pertambangan tersebut.
“Ketika melewati jalan sekitaran tambang, mata saya selalu terasa perih akibat debu dari aktivitas tambang, baik karena material tanah yang mengotori jalan maupun polusi udara dari truk pengangkut yang melintasi permukiman,” ujar Ari kepada Kabarminang saat melintas di lokasi, Minggu (11/10/2026).
Menurut Ari, lalu lalang truk pengangkut material yang berlangsung berulang kali membuat kondisi jalan tidak nyaman dilalui. Debu yang beterbangan juga menjadi persoalan bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar jalur angkutan tambang.
Keluhan tersebut menambah daftar persoalan lingkungan yang sebelumnya disampaikan warga terkait aktivitas penambangan galian C di Gunung Sariak. Kegiatan pengambilan material berupa pasir, batu andesit, dan tanah liat di kawasan itu juga pernah memicu protes masyarakat, disertai kekhawatiran terhadap dugaan pembalakan liar.
Pada Kamis (3/9/2026), kelompok perempuan Kelurahan Gunung Sariak menggelar pertemuan bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat di Bukit Ace untuk menyampaikan dampak yang mereka rasakan.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Koperasi Gunung Sariak, Moni, menyebut pengerukan tanah dan dugaan pembalakan liar telah mengubah bentang alam serta meningkatkan kekhawatiran warga terhadap keselamatan permukiman di bagian hilir sungai.
Ia mengaitkan kerusakan lingkungan di kawasan Gunung Sariak dengan dampak bencana yang terjadi pada akhir 2025, termasuk rumah warga yang hanyut dan jembatan yang rusak.

















