Kabarminang – Akademisi Universitas Andalas (Unand), Harison, mendesak pemerintah segera membangun jalur penyelamatan darurat (run escape) di kawasan rawan kecelakaan Panyalaian, Kabupaten Tanah Datar, dan Sitinjau Lauik, Kota Padang, Sumatera Barat.
Desakan itu muncul menyusul rentetan kecelakaan yang melibatkan kendaraan berat di kedua jalur tersebut. Kondisi jalan yang memiliki turunan curam dan tikungan tajam dinilai meningkatkan risiko kecelakaan fatal, terutama ketika kendaraan mengalami kegagalan fungsi pengereman.
Dosen Program Studi Program Profesi Insinyur Unand itu mengatakan, karakteristik geografis kedua jalur tersebut menyimpan risiko tinggi bagi pengguna jalan. Turunan panjang dapat meningkatkan suhu sistem pengereman, khususnya pada kendaraan niaga yang membawa muatan berat.
Salah satu kecelakaan terbaru terjadi di Jalur Panyalaian pada Minggu (4/10/2026) malam. Mobil pikap bernomor polisi BA 8345 LAA dilaporkan mengalami rem blong hingga menabrak enam kendaraan sekaligus.
Kecelakaan tersebut kembali mengingatkan masyarakat pada insiden maut yang melibatkan truk trailer pengangkut pupuk di kawasan yang sama pada Januari 2026. Kecelakaan itu menewaskan lima orang.
Risiko serupa juga mengintai pengguna jalan di Sitinjau Lauik, jalur penghubung Kota Padang dengan Kabupaten Solok. Pada Senin (19/10/2026) pagi, truk tronton bermuatan jagung melaju tak terkendali dari arah Solok menuju Padang dan menghantam truk ekspedisi di kawasan Tunggua Panorama 2.
Kecelakaan itu menyebabkan dua pengemudi dilarikan ke Semen Padang Hospital. Insiden tersebut juga memicu kemacetan total hingga proses evakuasi selesai dilakukan.
Harison menjelaskan, karakteristik jalan di Panorama 1 dan Panorama 2 Sitinjau Lauik memberikan tekanan besar terhadap komponen mekanis kendaraan, terutama armada angkutan barang.

















