Kabarminang — Universitas Islam Negeri (UIN) Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi menjadi titik lokasi (tilok) pemantauan hilal untuk penentuan awal Syawal 1447 Hijriah pada 2026. Kegiatan pemantauan tersebut dilaksanakan pada Kamis, 19 Maret 2026.
Rektor UIN Bukittinggi, Silfia Hanani penunjukan UIN Bukittinggi sebagai lokasi rukyatul hilal berkaitan dengan ketersediaan fasilitas astronomi yang dimiliki kampus tersebut.
Salah satu fasilitas utama adalah observatorium atau pusat pengamatan dan penelitian astronomi yang dilengkapi teleskop permanen untuk mempelajari benda langit.
Observatorium tersebut berada di lantai empat gedung laboratorium bersama UIN Bukittinggi. Fasilitas ini dinilai representatif untuk mendukung kegiatan pengamatan hilal secara ilmiah dan terukur.
Selain sarana fisik, UIN Bukittinggi juga memiliki sumber daya manusia di bidang ilmu falak (astronomi Islam). Sejumlah akademisi yang dikenal di bidang ini antara lain Zul Efenedi, Hendri, dan Hanif A’la Ilhami.
Selama ini, keberadaan observatorium dimanfaatkan untuk praktik dan pembelajaran mahasiswa, khususnya di Fakultas Syariah. Mahasiswa diwajibkan mempelajari ilmu falak yang berkaitan dengan penghitungan waktu berdasarkan pergerakan benda langit, baik secara manual maupun menggunakan teknologi modern, termasuk bantuan planetarium.
Silfia Hanani, mengatakan bahwa fasilitas observatorium tidak hanya digunakan untuk kepentingan akademik, tetapi juga untuk memperkuat keilmuan astronomi Islam yang menjadi salah satu ciri khas kampus tersebut.
“Keberadaan observatorium ini selain digunakan untuk kepentingan pembelajaran sekaligus untuk memperkuat keilmuan dan penguasaan astronomi Islam di UIN Bukittinggi yang selama ini telah menjadi salah satu ciri khas keilmuan dari UIN Bukittinggi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa fasilitas tersebut juga terbuka untuk masyarakat umum yang ingin mempelajari benda langit secara lebih mendalam. Selain itu, observatorium kini dimanfaatkan sebagai lokasi pemantauan hilal untuk penentuan awal Syawal tahun ini.
Menurutnya, kegiatan rukyatul hilal di UIN Bukittinggi merupakan yang pertama kali dilaksanakan di kampus tersebut, seiring dengan kesiapan sarana astronomi yang dimiliki.
“Kepercayaan ini merupakan bentuk pengakuan terhadap kapasitas akademik dan kontribusi kampus dalam pengembangan ilmu falak (astronomi Islam),” katanya.
Ia menyebutkan bahwa kegiatan rukyat hilal ini melibatkan dosen, mahasiswa, serta tim dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Kota Bukittinggi. Selain sebagai kegiatan keagamaan, momentum ini juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi.
“Kegiatan rukyat hilal ini juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi kita semua dalam memahami integrasi antara ilmu syariah dan sains modern. Kita harapkan, kegiatan ini berjalan lancar,” tutupnya.
















