“Jadi, rasanya belum merdeka dengan kondisi kehidupan seperti ini. Masih merasa tertindas karena kondisi ekonomi susah sekarang,” katanya.
Bayar listrik mandiri
Selain menghadapi persoalan jaminan hidup, penghuni huntara di Kapalo Koto mulai menghadapi biaya listrik yang harus dibayar secara mandiri. Delvi mengatakan bahwa sebelumnya, kebutuhan listrik di huntara dibiayai pemerintah. Namun, mulai Agustus 2026, katanya, penghuni harus menanggung biaya listrik sendiri.
“Penghasilan belum ada, bayar listrik besar,” ujar Delvi.
Delvi mengatakan daya listrik yang digunakan mencapai 5.500 VA. Ia menyebut bahwa pembelian token listrik untuk digunakan bersama dibeli oleh penghuni sejumlah rumah di huntara.
“Kalau satu token ada lima rumah, ada tujuh rumah. Kalau tujuh rumah aktif, Rp1,2 juta tarifnya sebulan. Nanti dibagi tagihannya sesuai dengan jumlah rumah,” kata Delvi.
Keluhan mengenai kondisi listrik juga disampaikan penghuni huntara lainnya, Murtis (53 tahun). Ia mengatakan bahwa keluarganya selama ini hanya mengandalkan bantuan pemerintah dan donatur untuk memenuhi kebutuhan hidup.
“Berharap hanya kepada donatur pemerintah untuk hidup. Itu pun sekarang sudah habis. Pusing sekarang: masalah listrik, bantuan tidak ada yang masuk. Sengsara kami tinggal di huntara sekarang. Rumah hanyut,” ucap Murtis.
Murtis meminta persoalan biaya listrik mendapat perhatian. Ia berharap biaya listrik dapat diringankan atau daya listrik diturunkan agar pembayaran tidak terlalu besar.
















