Selain bantuan bibit, A menyoroti penyaluran bantuan sosial lain, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan sosial lainnya. Ia menilai penerima bantuan di wilayahnya cenderung berasal dari kalangan yang dekat dengan kepala jorong, sedangkan warga yang menurutnya lebih membutuhkan justru tidak memperoleh bantuan.
Keluhan lainnya juga disampaikan M (64). Saat galodo pada 2025, rumahnya yang berada di pinggir sungai terdampak. Sawah dan heler miliknya juga mengalami kerusakan akibat galodo tersebut. Selain itu, akses jalan di wilayahnya sempat terputus. Meski demikian, M mengaku namanya tidak tercantum dalam daftar penerima bantuan bibit bawang merah.
Ia mengatakan dirinya juga telah menanyakan persoalan tersebut kepada kepala jorong. Menurut M, ia mendapat jawaban bahwa data penerima berasal dari pihak di atas dan kepala jorong hanya bertugas membagikan bantuan.
“Katanya data itu dari atas dan dia hanya membagikan. Padahal, setahu saya, yang mendata dan memasukkan nama penerima itu kepala jorong sendiri,” tuturnya.
Ia mengatakan telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Pemerintah Nagari Lolo. Namun, hingga kini ia mengaku belum mendapatkan respons.
Terkait keluhan tersebut, Tim Sumbarkita telah berupaya meminta keterangan kepada Kepala Jorong Ulu Sungai Indarung, Nagari Lolo, Bakhridurrahman, dan Sekretaris Nagari Lolo, Dasrianto, melalui sambungan telepon dan pesan WhatsApp. Namun, hingga berita ini diterbitkan, keduanya belum merespons. Sumbarkita akan memuat tanggapan dari pihak terkait apabila telah diperoleh pada pemberitaan berikutnya.




















