Dalam kejuaraan yang diikuti pesilat dari tujuh negara tersebut, Zahra harus mengakui keunggulan pesilat asal Australia dan mengakhiri kompetisi di posisi kedua.
“Dalam seluruh kejuaraan tersebut, saya bertanding di kelas D putri dewasa dengan rentang berat badan 60–65 kilogram,” ujar Zahra kepada Sumbarkita, Kamis (22/10/2026).
Berlatih Dua Kali Sehari di Tengah Kesibukan Kuliah
Perjalanan Zahra di dunia pencak silat dimulai sejak duduk di kelas satu sekolah menengah pertama (SMP). Ketertarikannya terhadap olahraga bela diri tumbuh sejak kecil, salah satunya karena sering melihat ayahnya menonton pertandingan tinju.
Ketertarikan tersebut kemudian berkembang menjadi keseriusan menekuni pencak silat hingga ia aktif mengikuti berbagai kejuaraan. Meski kini berstatus mahasiswi, Zahra tetap berusaha menjaga rutinitas latihan agar kemampuannya terus meningkat.
Ia berupaya menjalani latihan dua kali sehari. Ketika memiliki jadwal kuliah, Zahra berlatih secara mandiri pada pagi hari sebelum berangkat ke kampus, kemudian melanjutkan latihan pada sore hari setelah perkuliahan hingga menjelang waktu Isya.
Dalam perjalanan sebagai atlet, Zahra menyebut pelatihnya sebagai sosok yang paling menginspirasi sekaligus berjasa menjaga semangatnya untuk terus berlatih. Dukungan orang tua juga menjadi salah satu faktor penting dalam perjalanan meraih prestasi.
Untuk menjaga kondisi fisik, ia mengonsumsi vitamin dan berusaha mempertahankan pola tidur. Zahra mengatakan tidak mengalami cedera serius atau fatal selama mengikuti berbagai kejuaraan tersebut.
Meski demikian, ia pernah mengalami patah gigi saat mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) pada 2023.




















