Asnianti menjelaskan, jumlah kasus ISPA yang dilaporkan setiap hari mengalami perubahan. Pada 7 Oktober tercatat 284 kasus, kemudian meningkat menjadi 309 kasus pada 8 Oktober.
Jumlah tersebut turun menjadi 235 kasus pada 9 Oktober dan 191 kasus pada 10 Oktober. Pada 11 Oktober, kasus yang tercatat sebanyak 98 kasus, sebelum kembali meningkat menjadi 253 kasus pada 12 Oktober dan 284 kasus pada 13 Oktober.
Pada 14 Oktober, laporan mencatat 291 kasus, kemudian meningkat menjadi 340 kasus pada 15 Oktober. Jumlah itu turun menjadi 333 kasus pada 16 Oktober dan kembali menurun menjadi 198 kasus pada 17 Oktober.
Menurut Asnianti, data tersebut bersumber dari rekam medis elektronik (RME) puskesmas, puskesmas pembantu (pustu), bidan praktik mandiri, dan dokter praktik mandiri di seluruh Kabupaten Solok.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan selama kondisi kabut asap. Warga yang mengalami keluhan berat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.
Selain itu, masyarakat diimbau menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, mengurangi kegiatan di luar ruangan saat asap menebal, serta memperbanyak minum air putih.
“Jika mengalami sesak napas, batuk berat, atau sulit bernapas, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat,” demikian imbauan Asnianti kepada masyarakat.
Meski tercatat 2.705 kasus ISPA selama periode tersebut, data yang dipaparkan belum merinci jumlah kasus yang secara khusus disebabkan oleh kabut asap.




















