“Risiko bencana tidak selalu berbanding lurus dengan jarak geografis, melainkan mengikuti keterhubungan ruang seperti jalur atmosfer, jaringan transportasi, dan kepadatan penduduk,” katanya.
Timtim menyebut analisis risiko erupsi Gunung Marapi perlu memperhitungkan tiga unsur secara terpadu, yakni bahaya, paparan, dan kerentanan.
“Bahaya berasal dari kawah gunung, paparan mencakup pemukiman dan aktivitas warga, sedangkan kerentanan menentukan besarnya dampak kerugian yang dialami masyarakat,” tegasnya.
Selain hujan abu, material vulkanik yang mengendap di lereng dan kawasan hulu juga berpotensi menimbulkan bahaya sekunder berupa banjir lahar.
“Apabila endapan material di wilayah hulu terpicu curah hujan yang tinggi, maka ancaman banjir lahar dapat mengintai sepanjang alur sungai yang berhulu di Marapi,” ungkap Timtim.
Karena itu, penanganan pasca-erupsi dinilai tidak cukup hanya dengan membersihkan abu dari jalan dan permukiman. Pemerintah daerah perlu memetakan sebaran abu dan menggabungkannya dengan data topografi, jaringan sungai, serta kepadatan penduduk.
“Pemerintah daerah perlu segera mengumpulkan data sebaran abu untuk diintegrasikan dengan data topografi, jaringan sungai, dan peta kepadatan penduduk menjadi pemodelan mitigasi,” imbaunya.
Menurutnya, pemetaan tersebut dapat digunakan untuk menentukan prioritas pembersihan fasilitas publik, mengatur arus lalu lintas, menyiapkan jalur evakuasi, serta memberikan perlindungan kepada kelompok rentan.
Masyarakat yang tinggal di sekitar alur sungai yang berhulu di Gunung Marapi juga diimbau tetap waspada ketika hujan turun, terutama terhadap kemungkinan peningkatan aliran material vulkanik dari kawasan hulu.
Selain itu, masyarakat disarankan menggunakan masker yang menutup hidung dan mulut saat beraktivitas di luar rumah selama masih terdapat paparan abu vulkanik.


















