Kabarminang — Sebanyak 14 siswa di tiga sekolah rakyat di Sumatera Barat (Sumbar) mundur. Berdasarkan temuan Ombudsman RI Perwakilan Sumbar, mereka berhenti sekolah karena mundur dengan berbagai alasan.
Kepala Ombudsman RI Perwakilan Sumbar, Adel Wahidi, mengatakan bahwa dari 14 siswa tersebut, 4 siswa di antaranya bersekolah di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 4 Padang, 7 siswa belajar di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 4 Padang, dan 3 siswa duduk di bangku SRMP 5 Solok.
“Kami menemukan 14 siswa sekolah rakyat tersebut mundur dalam investigasi yang kami lakukan sejak Mei sampai Agustus 2026. Mereka mundur tahun kemarin. Mereka terdiri atas perempuan dan laki-laki” ujar Adel pada Selasa (20/10/2026).
Adel menyampaikan bahwa penyebab para siswa itu mundur beragam. Ia mengungkapkan bahwa di SRMA 4 Padang, satu siswa mundur karena tidak mau menjalani tes kesehatan dan tidak ingin lanjut bersekolah; satu siswa mundur karena tidak diizinkan oleh ayahnya bersekolah, padahal ia ingin bersekolah; satu siswa lagi mundur karena tidak kembali lagi ke sekolah karena tidak ingin tinggal di asrama.
“Ada siswa yang ingin bersekolah, tetapi dia dibutuhkan oleh keluarganya untuk membantu mencari uang. Pemerintah daerah setempat harus mencarikan solusi agar siswa itu bisa bersekolah tanpa terbebani kewajiban untuk mencari uang, misalnya memberikan bantuan sosial kepada keluarganya,” ucap Adel.
Di SRMP 4 Padang, kata Adel, ada siswa yang mundur karena mendapatkan gangguan fisik dari teman, bertengkar dengan teman di asrama, sakit sesak napas, dan tidak kembali ke sekolah setelah libur semester.
“Dalam temuan kami, ketiga sekolah rakyat itu tidak memiliki satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan di sekolah. Satuan tugas tersebut dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan di sekolah dan menanganinya untuk menghindari perundungan terhadap siswa,” tutur Adel.
Sementara itu, di SRMP 5 Solok, Ombudsman Sumbar menemukan bahwa satu siswa mundur karena tidak bersekolah dan mengalami peristiwa mistis; satu siswa mundur karena kabur dari asrama, kemudian bersekolah di SMP negeri; satu siswa mundur karena sering tidak masuk sekolah karena sakit usus buntu, kemudian tidak lanjut bersekolah setelah menjalani operasi.



















