Kabarminang – Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi mengalihkan pembelajaran tatap muka (PTM) menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR) secara daring bagi peserta didik tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) akibat kabut asap dan sebaran abu vulkanik Gunung Marapi yang menyelimuti daerah itu. Kebijakan tersebut berlaku pada Rabu hingga Sabtu (14–17/10/2026).
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, Albertiusman, mengatakan, keputusan tersebut diambil setelah Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Bukittinggi mencapai angka 170 atau masuk kategori tidak sehat pada Selasa (13/10/2026).
“PJJ kembali dilakukan mulai Rabu hingga Sabtu, tetapi kami akan terus memantau kondisi cuaca setiap hari. Jika kualitas udara membaik sebelum Sabtu, belajar di sekolah bisa segera diterapkan kembali,” ujar Albertiusman kepada Sumbarkita, Selasa (13/10/2026).
Ia melanjutkan, peningkatan pencemaran udara di Bukittinggi dipicu oleh kabut asap dan sebaran abu vulkanik Gunung Marapi yang erupsi pada Selasa (13/10/2026) pagi.
“Erupsi Gunung Marapi ditambah kabut tebal pada pagi hari menyebabkan kualitas udara menjadi sangat pekat dan berbahaya bagi kesehatan anak-anak,” tuturnya.
Terkait kebijakan untuk tingkat sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi telah berkoordinasi dengan Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Provinsi Sumatera Barat.
Ia meminta orang tua berperan aktif mendampingi dan mengawasi anak-anak selama menjalani proses belajar dari rumah.
“Kami meminta orang tua memastikan anak-anak benar-benar belajar secara serius di rumah, bukan justru memanfaatkan waktu libur sekolah untuk bermain di luar,” katanya.



















