Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menyebut warga terdampak tersebar di lima kecamatan. Koto Tangah menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak terbanyak, yakni 3.291 kepala keluarga atau 12.554 jiwa.
Di Kecamatan Nanggalo, tercatat 3.192 kepala keluarga atau 10.567 jiwa terdampak. Sementara itu, Kecamatan Kuranji mencatat 960 kepala keluarga atau 1.052 jiwa, Padang Selatan sebanyak 319 kepala keluarga atau 1.132 jiwa, dan Padang Utara sebanyak 161 kepala keluarga atau 619 jiwa.
Dari sisi permukiman, Nanggalo mencatat 3.192 rumah terendam, disusul Koto Tangah sebanyak 2.227 rumah. Sebanyak 788 rumah terendam di Kuranji, 292 rumah di Padang Selatan, dan 119 rumah di Padang Utara.
Banjir Agustus juga merusak infrastruktur pengendali air. BPBD mencatat satu bendungan di Lubuk Laweh mengalami kerusakan berat. Kerusakan berat juga terjadi pada satu dam sungai di depan Masjid Taqwa Guo, Kecamatan Kuranji.
Kini, banjir kembali melanda Padang pada Oktober 2026. Sementara warga menghadapi dampak langsung bencana, pendataan kerusakan dan kerugian masih diperlukan untuk mengetahui besarnya dampak secara menyeluruh.
Rentetan kejadian ini menempatkan perlindungan warga, penanganan darurat, pemulihan permukiman, dan evaluasi infrastruktur pengendali banjir sebagai persoalan penting bagi Kota Padang. Data resmi terbaru akan menjadi dasar untuk melihat skala dampak banjir Oktober sekaligus menentukan kebutuhan penanganan berikutnya.

















