Tidak lama kemudian, Zia mendengar teriakan orang-orang disertai suara air. Ia kemudian mencoba membuka pintu untuk memastikan apa yang sedang terjadi. Namun, air ternyata sudah mulai masuk ke dalam rumah.
Menyadari situasi semakin berbahaya, Zia segera membawa anaknya ke lantai atas agar terhindar dari arus banjir. Setelah memastikan anaknya berada di tempat yang lebih tinggi, ia menghubungi Fatra untuk meminta pertolongan.
Bagi Fatra, banjir kali ini terasa jauh lebih besar dibandingkan banjir yang melanda Lumin Park pada 2025. Ia bisa membandingkan kedua kejadian tersebut karena sebelumnya tinggal di kompleks yang sama, tepatnya di Blok D 13, bersebelahan dengan rumah kakaknya di Blok D 14.
Setelah banjir tahun lalu, Fatra memutuskan pindah ke Perumahan Putri Asri, Ampang, Padang. Namun, saat banjir kembali menerjang kawasan tempat tinggal lamanya, ia harus berpacu dengan waktu untuk membantu kakak dan keponakannya yang masih terjebak.
Kini, Zia dan anaknya untuk sementara tinggal bersama Fatra di Perumahan Putri Asri. Keduanya meninggalkan rumah yang terendam banjir demi berada di tempat yang lebih aman.
Fatra mengatakan rangkaian kejadian tersebut berlangsung sejak selepas zuhur hingga menjelang magrib. Ia bersyukur kakak dan keponakannya berhasil diselamatkan dengan bantuan petugas di tengah derasnya arus banjir yang mengepung kawasan perumahan.




















