Selama sekitar satu jam menunggu, Fatra terus memantau kondisi kakak dan keponakannya melalui telepon. Ia berharap air segera surut agar keduanya bisa dijangkau dan dibawa ke tempat yang aman.
Peluang evakuasi mulai terbuka setelah pagar belakang kompleks perumahan jebol. Menurut Fatra, jebolnya pagar tersebut membuat air yang sebelumnya menggenangi kawasan perumahan mulai mengalir keluar.
Ia menilai, jika pagar itu tidak jebol, air berpotensi terus tertahan dan menggenangi kawasan Lumin Park.
Setelah kondisi memungkinkan, Fatra bersama petugas kepolisian dan Basarnas bergerak menuju rumah Zia. Proses evakuasi dilakukan dengan bantuan tali untuk membantu mereka melewati aliran banjir menuju tempat yang lebih aman.
“Saat akhirnya sampai di rumah mendapati bagian dalam rumah sudah dipenuhi air. Barang-barang di dalamnya berserakan akibat terendam banjir,” kata Fatra.
Fatra mengaku lega setelah kakak dan keponakannya berhasil dievakuasi. Terlebih, Zia sedang hamil, sedangkan anaknya masih kecil. Keduanya juga masih terlihat ketakutan setelah mengalami kejadian tersebut.
Setelah berada di tempat aman, Zia menceritakan kepada Fatra bagaimana banjir mulai masuk ke rumah mereka. Saat kejadian, Zia sedang memasak di dapur dan sempat mendengar suara sirene.
“Saat kejadian, Zia sedang memasak di dapur. Ia sempat mendengar suara sirene, tetapi bunyinya terdengar samar, seperti terbawa angin,” ujar Fatra menceritakan pengalaman kakaknya.


















