Kabarminang – Di tengah maraknya kuliner modern dan makanan cepat saji, Bika Bakar atau Kue Singgang masih bertahan sebagai salah satu pilihan kuliner tradisional yang masih dapat dijumpai di beberapa daerah di Sumatera Barat.
Salah satunya di dekat Jembatan Andalas, Kecamatan Padang Timur, Kota Padang. Penjual kuliner itu yakni Yurnida (54) dan suaminya, Afrizal (61), yang telah menekuni usaha tersebut sejak 1990.
Yurnida, yang akrab disapa Ibu Yur, menyebut usaha itu merupakan warisan orang tuanya. Ia mengatakan, Bika Bakar merupakan makanan yang dibuat dengan cara dipanggang dengan bahan dasar tepung beras, parutan kelapa, dan gula.
Ia mengatakan, dirinya memulai usaha tersebut bersama suaminya di simpang dekat TK Budi Mulia, Kelurahan Andalas. Setelah berjualan di lokasi itu selama bertahun-tahun, mereka kemudian berpindah ke dekat Jembatan Andalas sekitar tujuh tahun lalu.
Menurut Yurnida, ketika pembeli ramai, Bika Bakar bisa habis sekitar pukul 17.30 WIB. Namun, jika pembeli sepi, dagangan bisa habis hingga pukul 23.00 WIB.
“Biasanya ramai yang beli itu pada saat gerimis atau hujan, saking banyaknya itu sebelum magrib sudah habis,” ujarnya saat ditemui Sumbarkita, Selasa (14/10/2026).
Ia mengatakan, Bika Bakar tersebut dijual dengan harga Rp2.000 per buah. Dalam sehari, jumlah yang terjual bisa mencapai sekitar 1.000–1.200 buah.
Adonan tersebut disiapkan Yurnida dari rumahnya, yang berada di dekat Puskesmas Andalas. Sedangkan gerobak dan tungku pembakaran tetap ditinggalkan di lokasi berjualan.



















