Kabaminang – Akademisi Kesehatan Lingkungan dan Vektor Penyakit Poltekkes Kemenkes Padang, Aidil Onasis, menyebut penanganan pascabanjir bandang di Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok tidak boleh berfokus pada layanan pengobatan semata, melainkan juga harus memprioritaskan pengelolaan kesehatan lingkungan di lokasi pengungsian.
Ia menyebut, material yang membawa lumpur, limbah domestik, hingga bangkai berpotensi kuat mengontaminasi sumber air minum warga di permukiman maupun tempat pengungsian dan berisiko tinggi memicu penularan penyakit berbasis air dan makanan, seperti diare, gastroenteritis, hepatitis A, hingga leptospirosis akibat paparan urine hewan.
Ia juga mengingatkan seluruh sumber air, mulai dari sumur, jaringan PDAM, hingga air tangki, berisiko terkontaminasi sehingga tidak dikonsumsi langsung sebelum ada hasil pemeriksaan laboratorium yang menyatakan aman. Pemeriksaan itu mencakup pengujian fisik, tingkat keasaman (pH), kadar klorin, hingga identifikasi bakteri indikator seperti E. coli.
“Masyarakat di pengungsian disarankan hanya mengonsumsi air yang sudah melalui proses disinfeksi atau direbus hingga mendidih,” tuturnya.
Ia menyebut, sesuai dengan pedoman krisis kesehatan Kementerian Kesehatan, alokasi pasokan air bersih bagi pengungsi perlu ditargetkan secara bertahap hingga mencapai 15 sampai 20 liter per orang per hari.
Ia juga mengingatkan hunian pengungsian yang padat serta berventilasi buruk juga berpotensi meningkatkan penyebaran infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan penyakit kulit di kalangan pengungsi.
Ia meminta penanganan di tempat pengungsian disarankan tidak disamaratakan, melainkan harus memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti bayi, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas.
“Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa kelompok rentan paling mudah terdampak buruk akibat minimnya sanitasi pascabencana,” ungkapnya.


















